Minggu, 15 September 2013

Glider - Flight



Halo rekan-rekan aeromodeller ! Pada bagian ini, saya akan membahas mengenai penerbangan "Glider", baik yang menggunakan  motor sebagai tenaga penggerak (electric glider) ataupun tanpa motor (unpowered glider). Kenapa mengenai model glider ini saya ingin membahasnya secara terpisah? Itu karena beberapa keuntungan dibandingkan dengan model pesawat rc yang lain :
Beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk menarik glider ke angkasa  diantaranya : tali panjang dengan ujung "parasit" kecil ==========>
Seperti gambar di samping kiri ini, persiapan peluncuran glider menggunakan "hi-start". Paling tidak kita membutuhkan seorang rekan yang akan menarik glider tsb dengan berlari. Sampai ketinggian maksimum (sesuai panjang talinya), maka tali akan terlepas, dan glider akan melayang mengikuti arah angin ataupun termal di udara.
<==========It goes and "up", pelepasan glider dengan mudah. 
Penarikan menggunakan "hi-starts" dilakukan selalu melawan angin ! seperti gambar ilustrasi di kanan ini. Perlu diperhatikan pula bahwa orang "kedua" harus memegang glider diatas kepala ! Sebab, jika memengangnya terlalu rendah, maka ekor pesawat bisa saja "menyabet" bagian belakang kepala, akibatnya mungkin bisa sedikit benjol he...he...Diluar kejadian ini, penerbangan menggunakan glider sebenarnya adalah sangat aman.
"Launch" unpowered glider sebenarnya juga dapat dilakukan menggunakan elektrik-penarik yang disebut "winch". Alat ini diaktifkan menggunakan pedal kaki, sehingga pada saat pedal tsb. ditekan, "drum" ditengah akan berputar. Kecepatannya dapat diatur sesuai dengan tekanan yang diberikan ke pedal. Sebagai sumber catu dayanya, biasanya digunakan 12 V Aki mobil. Penggunaan "winch" lebih diutamakan pada "intermediate flyer".
Jenis pesawat ini menggunakan "electric motor" sebagai tenaga penggeraknya. Keuntungannya dibandingkan dengang "unpowered glider" adalah tidak diperlukannya tali penarik, sehingga penerbangan electric glider dapat dilakukan oleh sang "pilot" sendiri. Motor pesawat akan berputar maksimum sampai ketinggian yang diinginkan, lalu dengan kondisi motor di "cut", pesawat akan mulai untuk gliding. Adapun kekurangannya dari tipe pesawat ini adalah beratnya yang cukup lumayan, akibat dari tambahan peralatan (motor dan baterai) di dalam pesawat, sehingga kalau komposisi berat tidak sesuai dengan model atau besar pesawat, waktu terbang akan lebih singkat.
Pada jenis ini ekor sayap terpasang pada bodi / fuselage. Menggunakan standar "rudder", dan dapat ditemukan pada kebanyakan model glider. Sangat mudah dalam pembuatan ataupun pengendaliannya (contoh, my "WindStar").
Ekor sayap dipasang diatas kemudi putar (rudder), keuntungannya bahwa udara yang melewati sayap utama tidak begitu mempengaruhi sayap ekor. Model ini mungkin agak sulit untuk dibuat sendiri (contoh : my "Petrel 2.6M").
Kombinasi antara "Conventional Tail" dan " T-Tail". Model ini dapat memperoleh keuntungan dari model "T-Tail", dan juga agak lebih mudah untuk dibuatnya.
Stabilizer pesawat dibentuk seperti huruf "V", dan tidak ada "rudder". Untuk pengendaliannya diperlukan radio dengan kemampuan "mixing" channel.
Thermal Sailplanes
Thermal Sailplanes ride on the continuous currents of warm air that rise from the land. They seem to float across the sky. Pilots must be able to detect invisible thermal currents and take advantage of them (rising warm air is often found over such terrain as freshly plowed fields and paved parking areas). With experience, pilots can keep their craft in the air for 15 minutes or even longer ===> Michael's favorite...
Slope Soarers
Slope Soarers get their lift from wind that rises when it meets a hill or upward slope. The lift lasts as long as the wind blows. Because they fly in stronger wind conditions, slope soarers are faster than thermal sailplanes, and the extra speed gives them excellent aerobatic capabilities.


  • Tenaga penggeraknya menggunakan tali (hi-starts), karet (rubber), ataupun electric motor, sehingga kita tidak perlu membeli bahan bakar, serta membeli peralatan2 starter extra ===> lebih hemat
  • Penerbangan glider tidak menimbukan "kebisingan" ataupun "gas" buangan, sehingga dapat diterbangkan pada lapangan yang luas dimana saja ===> ramah lingkungan
  • Pesawatnya biasa terbang dengan cukup "lambat", sehingga dapat memberikan ketenangan pada "pilot" yang mengendalikannya ===> "relax-flying"
  • Biasanya harga glider juga lebih murah dibandingkan dengan model engine (trainer-glider) ===> "cut cost"
  • Waktu terbang dapat cukup lama, bagi yang sudah mahir, penerbangan 30 menit atau lebih adalah hal yang mungkin!, karena memanfaatkan efek "termal" di udara, dan hal ini tidak dapat dilakukan oleh jenis rc-flight yang lain ===> "the flight-time winner" 
Unpowered Glider :
Glider tidak bermesin atau "unpowered glider" adalah tipe pesawat yang 100% mengandalkan angin ataupun termal untuk kemampuan terbangnya. Untuk menerbangkannya biasanya menggunakan tali cukup panjang yang akan dikaitkan pada pengait glider. Pada ujung tali tsb. terdapat semacam "parasut" kecil, yang akan menjadi "guide" jatuhnya tali dari angkasa.
Untuk menerbangkan "unpowered glider" sebaiknya diperlukan 3 orang : orang pertama adalah sang "pilot" (pemegang transmitter), kedua adalah rekan yang memegang glider "ready for take off", dan yang ketiga adalah rekan yang akan menarik glider dengan berlari. Antara orang kedua dan ketiga perlu ada kerjasama yang baik, agar pelepasan glider "bersamaan" dengan ditariknya pesawat tsb. Jika kondisi anginnya bagus. maka begitu ditarik, glider bisa mencapai ketinggian diatas 100 meter, dan itu masih bisa lebih tinggi lagi. Lalu mungkin pertanyaan kita, bagaimana pesawat dapat mempertahankan ketinggian? Disini kita memerlukan sedikit "keahlian" mencari termal udara, dan dengan latihan tentunya dapat kita atasi. Mengingat tidak adanya motor, maka pengendalian tipe glider ini cukup menggunakan 2 channel tx (rudder & elevator). Ada juga glider tipe besar yang dilengkapi oleh aileron, maka diperlukan 1 atau 2 extra channel.
Sedikit tips : jangan melakukan gerakan stick tx terlalu terburu-buru, perhatikan dulu arah terbang glidernya, usahakan pada max. ketinggian untuk melakukan "level-flight".
=========> Contoh dari sebuah "winch".

Electric Glider :
Motor yang digunakan biasanya tipe "540" atau "600" dengan "direct-drive" system (keterangan mengenai sistem ini dapat dilihat di "Electric Flight"). Penomoran "540" pada motor sebenarnya menunjukkan panjang dari motor itu sendiri (5,4 cm). Ada juga memang beberapa jenis pesawat yang telah dilengkapi dengan "gear-box", dan itu benar2 dapat menghemat baterai pesawat. Folding propeller atau baling2 lipat adalah yang biasa digunakan oleh electric glider, ukurannya harus disesuaikan dengan jenis motor & model glider. Mungkin saya disini dapat menjelaskan sedikit mengenai tipe "folding propeller" : Ukuran dari propeller / baling2 biasanya diberikan dalam bentuk "length" & "pitch". Sebuah 13 x 7 propeller adalah propeller dengan panjang 13 inch dan jika berputar satu "revolution" (satu putaran penuh) secara teori akan menggerakkan pesawat 7 inch kedepan. Kenyataannya tapi akan lebih banyak udara didorong kebelakang, dengan efisiensi dibawah 100% terhadap beban pesawat.
Selain itu tentu saja masih diperlukan baterai, ESC, receiver, servo, tx,  yang artikelnya pernah saya bahas di "Electric Flight".
Penjelasan model Glider secara umum :
Ada beberapa jenis model "tail" (ekor) pesawat yang dapat kita jumpai pada model glider, diantaranya adalah :



Dari sifat kondisi terbangnya, glider (sailplanes) dibedakan menjadi dua bagian : (sekali-kali latihan menggunakan bhs Inggris ya...) :
Jadi, tergantung lokasi menerbangkan pesawat, kita sebaiknya juga memilih tipe pesawat (dalam hal ini, glider) yang sesuai, saya lebih cenderung memilih model "Thermal Sailplanes", karena lokasi tempat penerbangan yang berupa semacam ladang yang cukup luas.
    Bagaimana cara mendapatkan "Thermals" ?  
"Termal" (bhs Inggris : Thermals) adalah udara (hangat) yang naik keatas diakibatkan dari perbedaan suhu :
Daerah hitam dibawah adalah daratan yang telah terkena sinar matahari sehingga menjadi panas.
Udara dingin diatas akan digantikan oleh udara yang lebih hangat dari bawah, sehingga bagian udara yang suhunya lebih rendah tersebut akan turun ke permukaan daratan. Jika kita merasa adanya tiupan angin (sejuk) menurun, kemungkinan besar adalah adanya "termal" didepan kita.
Biasanya kondisi dimana ada "termal" didepan kita, maka dapat dirasakan adanya hembusan angin yang tidak begitu kuat, akibat dari turunnya udara sejuk.
Lokasi "termal" akan berada di belakang kita, jika terasa tiupan angin (sejuk) yang lebih kuat.
Sebenarnya kondisi lapangan yang memungkinkan adanya cukup termal adalah di daerah berumput (alang2), dan termal yang baik biasanya akan timbul di siang hari, dimana daratan sudah cukup dipanasi oleh matahari. Sebenarnya kita juga boleh memperhatikan pola terbang berbagai jenis burung, sebelum menerbangkan pesawat model. Jika ada termal yang memadai, maka dapat terlihat dengan jelas bahwa kawanan burung tersebut akan dapat terbang naik keatas tanpa banyak menggerakkan sayapnya.
Sedikit Tips :
Agar kita dapat merasakan adanya termal pada saat terbang, maka kondisi terbang pesawat harus benar-benar stabil ketika semua "stick-control" dilepas (free-flight). Memang diperlukan sedikit waktu utk men-"setting"-nya, tapi ini adalah salah satu point terpenting penerbangan pesawat "Glider"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar